LIBURAN KE JOGJA DAN MALANG (Part IV: Malang)

Bromo
(Maaf kalau ini bukan foto yang bagus)

Cerita sebelumnya: LIBURAN KE JOGJA DAN MALANG (Part III: Jogja)

Wah, sudah lama sekali terakhir post blog liburan ke Jogja dan Malang. Maklum, masih berusaha menyesuaikan waktu setelah adanya 'kesibukan rutin' hehe. Tapi, kali ini saya akan melanjutkan cerita tersebut, yang mana perjalanan yang dilalui mulai beresiko.

Day 1 in Malang
Apa yang terpikirkan oleh kalian ketika pertama kali mendengarkan 'Kota Malang'? Sebagian mungkin akan menjawab 'Bromo'. Tapi lebih dari itu, Malang punya banyak keindahan yang mencuri hati. Ya, kali ini saya melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang. Perlu waktu ±7 jam dari Jogja menuju Malang menggunakan kereta (harga tiket kelas ekonomi: ± Rp 150.000, untuk harga terbaru dapat kalian cek sendiri). Bersyukurnya, ketika itu saya mendapatkan view sunrise diatas kereta ditemani pemandangan sawah yang melintang luas, serta suasana masyarakat kota Malang yang mulai bepergian kerja maupun mengantarkan anaknya ke sekolah. Wah, ini kali kedua saya tiba di stasiun Malang.

Dari kejauhan saya dapat melihat Kampung Tematik yang menarik perhatian. Sayangnya, saya justru tidak kesana setelah belakangan sadar bahwa banyak tempat menarik (It's okay cause I'll be back). Kereta akhirnya berhenti di st. Malang, dan saya memutuskan untuk membeli sarapan terlebih dahulu. Di sekitar stasiun, kita bisa menjumpai beberapa tempat makan. Berjalan sedikit ke arah kanan dari pintu keluar stasiun, saya menemukan penjual nasi pecel dengan harga ± Rp 10.000. Murah bukan? Setelah dirasa kenyang, kami pun memesan angkutan online untuk menuju rumah salah seorang teman di Malang.
Ps: Info untuk teman-teman yang ingin dijemput di st. Malang dengan angkutan online, kalian perlu berjalan cukup jauh dari stasiun berhubung masih terdapat kontra dari opang maupun supir angkot sekitar.

Akhirnya, sampailah saya di rumah salah seorang teman di Malang. Hari pertama berada di Malang saya manfaatkan untuk beristirahat. Dan di sore hari, teman saya pergi mengambil motor trail yang sudah disewa untuk digunakan menuju Bromo. Memang tidak banyak waktu istirahat yang tersisa saat itu. Dan jika kalian bertanya:
"Kenapa ngga naik mobil jeep aja sih?"
Well, biaya naik mobil jeep lebih mahal ketimbang menyewa motor trail. Saat itu saya dikasih diskon juga sih hehe jadi kami hanya perlu membayar Rp 200.000, sudah termasuk helm dan pelindung untuk berkendara. Kami juga diizinkan untuk menggunakan motor sampai sore esok harinya tanpa dikenai biaya tambahan. Pemiliknya juga berbaik hati memberikan kami info mengenai rute yang harus dilalui (Saya lupa nama jalur yang dilalui saat itu, namun tidak melalui jalur Tumpang karena sangat beresiko di malam hari).

Pukul 11.00 malam, kamipun berangkat. Baru melakukan perjalanan sekitar 15 menit lamanya, tiba-tiba hujan pun turun. Sial! Kami segera mengenakan jas hujan, tapi tetap saja sepatu basah duluan. Sepanjang perjalanan menuju Bromo, jalanan sangat gelap dan sepi sekali. Sulit saya ungkapkan bagaimana mengerikannya jalanan saat itu. Sebelah kanan dan kiri saya adalah hutan. Hanya 1 atau 2 kendaraan yang melintas per 30 menit, sedangkan lama perjalanan yang harus ditempuh adalah 2 jam. Ingin memutuskan untuk berteduh di salah satu warung warga pun percuma, sama sekali tidak ada yang buka.

Saya sangat merasa ketakutan ketika itu dan berusaha menghindar untuk memikirkan hal-hal yang buruk, sambil terus membaca doa. Berharap, segera keluar dari kawasan hutan ini dan selamat sampai tujuan dibalik hujan deras yang sama sekali tidak ingin reda. Hingga akhirnya saya bertemu moment dimana 2 orang pengendara motor beserta rekannya meminta kami untuk berhenti secara tiba-tiba. Bayangkan...di tengah malam, ditengah sepi dan gelapnya jalanan, di tengah hutan, dan ditengah hujan yang deras.

Saat itu saya meminta teman saya untuk menghiraukan mereka. Tapi percuma, entah mengapa ia memilih untuk berhenti (Jujur, cuma bisa pasrah sambil tetap berdoa saat itu). Mereka meminta tolong dan beralasan kehabisan bensin, akan tetapi saat itupun kami juga tidak dapat menolong. Wallahualam, akhirnya kami bisa pergi dari situasi tersebut. Setelahnya, saya memarahi rekan saya karena bertindak gegabah (Kalian bebas berpendapat apakah setuju dengan sikap yang saya ambil atau tidak. Kalau kalian berada di situasi yang saya rasakan saat itu, maka yakinlah, kalian mungkin akan bertindak sama dengan yang saya pilih. Dan di banyak artikel yang saya baca sebelum berangkat, mereka selalu mengingatkan mengenai 'begal'.
*Dan ini dialami oleh teman saya sendiri, ceritanya menyusul di part berikutnya.

Alhamdulillah, sampailah kami di sebuah perempatan. Terdapat 3-5 warung pedagang kaki lima yang masih buka saat itu. Kami memutuskan berhenti di salah satu warung kopi untuk menghangatkan badan sambil menunggu hujan reda. Karena besarnya resiko perjalanan sebelumnya, kami pun memutuskan menunggu mobil jeep yang lewat. Alih-alih bisa beriringan.
"Kalau mau rame, nanti tunggu jam 3-an mba. Ntar banyak tuh jeep yang lewat, ikutin aja.", ujar si pemilik warung.
Lengan jaket dan sepatu saya kenakan sudah basah, tapi tetap saja hujan masih bersikeras untuk turun. Udah deh, pasrah.

Beberapa menit kemudian, rombongan pengendara motor dari warung sebelah menghampiri kami:
"Kalian mau ke Bromo ya? Mau bareng tidak? Kami juga mau ke Bromo.", kata mereka.
Syukur luar biasa saya rasakan ketika bertemu rombongan ini. Kami segera mengiyakan dan bergegas ke motor lalu mengikuti mereka.

Hujan masih turun dengan derasnya, sedangkan waktu tempuh yang diperlukan masih lama, sekitar 40 menit lagi. Kabut mulai menganggu penglihatan, jarak pandang akan terlihat jelas hanya 1 meter dari posisi pengendara di depan. Semua pengendara membawa motornya dengan ekstra hati-hati. Setelah menempuh waktu yang cukup lama, tibalah kami di pintu masuk kawasan Bromo. Yuhuuu.

Terdapat peraturan, dimana sebelum memasuki kawasan Bromo, pengunjung harus melaporkan jumlah orang/rombongan beserta lokasi yang ingin dituju. Ketika itu, petugas tiket secara tegas melarang kami untuk 'turun ke bawah' menuju kawasan padang pasir, dikarenakan hujan yang belum reda. Setelah membayar tiket masuk wisata (Rp 25.000/per orang), kami pun pamit dan melanjutkan perjalanan. Di persimpangan menuju penanjakan dan padang pasir, saya beserta rombongan memutuskan untuk berpisah, dikarenakan beda destinasi. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada mereka yang telah berniat baik mengajak kami menuju Bromo.

Saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Penanjakan, Bromo. Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, jadi belum saatnya menuju view point sunrise. Kami memutuskan untuk berhenti di salah satu warung yang berjejer di sepanjang jalan menuju Puncak Penanjakan. Ketika memasuki salah satu warung yang cukup besar, hampir semua pengunjung disana menatap ke arah kami sampai posisi kami duduk HAHA. Ini dikarenakan perbedaan kami dengan mereka. Bagaimana tidak, pakaian mereka dalam keadaan kering (karena naik jeep), sedangkan kami dalam keadaan basah (meskipun tidak seluruhnya). Kami hanya bisa tertawa menyaksikannya sambil tetap menikmati hangatnya mie dan seduhan kopi panas.

Kami memilih untuk menunggu waktu subuh terlebih dahulu, dan satu per satu pelanggan di warung mulai beranjak pergi. Beberapa menit kemudian, badan saya semakin menggigil dan merasa sangat kedinginan.
"Ntar lu gausah wudhu ya, tayamum aja. Asli dingin banget airnya.", ujar teman saya yang sudah lebih dulu shalat.
Saya turun ke lantai bawah warung menuju mushalla. Saking dinginannya, saya sama sekali tidak bisa fokus ketika shalat. Bahkan kesulitan dalam berkata dan mengingat apa yang sedang saya baca. Gawat! Jangan sampai saya terkena hipotermia.

Kebetulan di pintu masuk mushalla, saya melihat seorang lelaki tua sedang membuat api unggun di atas wadah sambil menjaga anaknya yang tengah tertidur pulas. Spontan saja segera saya kabari teman saya dan memutuskan bergabung dengan bapak tersebut.
"Permisi, pak. Saya boleh gabung tidak? Saya kedinginan, mau angetin badan bentar dekat apinya."
"Oh boleh neng, boleh. Silahkan.", si bapak pun segera mengambilkan kami bangku dan menyuruh kami merapat dekat api. Namun, tiba-tiba bapak tersebut melirik ke saya sambil bertanya heran,
"Mba nya basah semua?"
"Engga pak, hanya bagian tangan dan lutut ke bawah", jawab saya sambil gemetaran.
"Maaf ya mas, temannya saya tolongin dulu", katanya sambil menarik kaki saya lebih dekat ke api.
"Kalian mending gausah ngejar sunrise. Udah, disini dulu saja sampai benar-benar hangat. Kasihan ini temannya, kedinginan. Untung belum hipotermia ya.", lanjutnya.
Sejujurnya saya sangat cemas ketika itu, meskipun saya sudah mengalami gejala hipotermia ringan.
Bapak tersebut kemudian pergi untuk membuatkan api unggun lagi dan mendekatkannya ke jaket saya.
"Maaf pak ngerepotin. Makasih banyak ya pak.", ucap saya.
"Nanti kalau masih belum baikan setelah dari atas, kesini lagi saja" ujarnya sambil terus mengingatkan kami untuk merelakan pemandangan sunrise yang bisa disaksikan di jam tersebut.

Ya, tidak ada lagi yang harus diutamakan selain keselamatan kami. Selama menghangatkan badan, bapak tersebut bercerita mengenai warungnya. Dan saya kagum mengenai pemikirannya tentang toleransi agama, terlebih ketika tau bahwa beliau beragama Hindu namun membuatkan mushalla yang cukup besar untuk digunakan orang Islam. (Teruntuk si bapak yang sudah menyelamatkan saya, terima kasih banyak pak. Semoga saya bisa berkunjung dan menemui bapak kembali.)Setelah kondisi tubuh saya membaik, kami izin pamit menuju Puncak Penanjakan meskipun masih gerimis.

Sesampainya di Puncak Penanjakan, pemandangan yang sangat dinantikan justru tidak bisa saya saksikan, kabutnya sangat tebal! Tapi belum mau menyerah, saya pun memutuskan untuk menunggu dan sarapan terlebih dahulu di warung sekitar penanjakan. Berharap kabut segera menyingkir.

Ya Tuhan, menyedihkan sekali perjuangan yang telah dilalui benar-benar pupus. Akan tetapi, sampai akhirnya....

Yay! Gerimis tidak lagi turun dan saya bisa melihat dengan jelas indahnya ciptaan Allah.

Puncak Penanjakan

Akhirnya, saya dengan leluasa dapat menikmati keindahan kawasan Bromo dari Puncak Penanjakan. Dari ketinggian ini saya juga dapat melihat iringan kendaraan jeep, motor, dan manusia yang terlihat kecil sekali dari atas. Meskipun saya tidak bisa menyaksikan pemandangan 'diatas awan' yang selama ini terkenal di Bromo, ini pun sudah lebih dari cukup. 
Ps: Oiya, sebenarnya ada lokasi bagus dan keren lainnya yang dapat teman-teman kunjungi untuk menikmati summit. Seperti Bukit Cinta, Bukit Mentigen, dll.

Setelah dirasa puas, kamipun turun menuju kawasan Pasir Berbisik. Jalanan yang terjal dan berlubang menuju kawasan inilah menurut saya mengapa 'sangat dianjurkan' tidak boleh sembarang kendaraan yang masuk. Dan sesampainya disana...

 
Perhatikan gambar diatas dengan seksama, ada yang janggal? HAHA.

That was epic, Bromo benar-benar menakjubkan! Selama ini saya belum pernah berada di satu kawasan yang mempunyai banyak keindahan seperti ini. Bahkan saya terhipnotis untuk berada sekian jam lamanya di setiap spot.

Masih belum puas, saatnya beranjak pergi ke Gn. Bromo. Disekitar kawasan gunung, pengunjung akan dikenakan tarif parkir sebesar Rp10.000 untuk kendaraan motor. Segera, kami mulai berjalan dan menaiki tangga menuju puncak Gunung Bromo. 
"Gem, bentar deh pelan-pelan. Ngga ada capeknya ya lu, padahal baru aja turun dari Gn. Andong", tiba-tiba teman saya berseru sambil ngos-ngosan menaiki anak tangga.
Well, saya memang selalu excited ketika ada pemandangan indah yang menanti untuk disaksikan. Hihihi.


Kawah Gn. Bromo

Saya spontan tersenyum saking bahagianya ketika berada di puncak Bromo. Namun, tidak berlangsung lama. Ternyata, di sekeliling kawah terdapat banyak sekali sampah yang berserakan. Tentu saja mengganggu pemandangan dan kebersihan. Bromo menjadi kurang dari kesempurnaannya, sungguh menyedihkan. Saya pribadi menghimbau kepada rekan lainnya yang ingin ke Bromo suatu hari nanti, tolong jaga kebersihan dan selalu memerhatikan larangan yang disampaikan. Sangat disayangkan bukan melihat alam kita tercemar?

View dari puncak Gunung Bromo

Untuk menghilangkan rasa kesal karena hal tersebut, saya pun segera berbalik badan. Berniat menyaksikan keindahan padang pasir dari ketinggian, dan benar saja, pemandangan dari puncak cantik tiada kira. Kami dapat menyaksikan lautan pasir yang terbentang begitu luas dengan sekumpulan kabut yang berlarian di tengahnya. Wah, kami berhasil dibuat takjub kembali. Beratnya perjuangan menuju lokasi ini akhirnya terbayarkan.

Tidak ingin kehilangan momen, kami segera berlarian turun ke bawah, mengambil motor, dan menuju depan Pura Luhur Poten yang berada di tengah padang pasir. Saya bahkan ikut berkejaran dengan kabut yang terus bermunculan, seolah menggoda, 'Ayo kejar kami!'.

Beberapa warga yang tengah beristirahat dengan kuda mereka

Saya juga mencoba masuk ke dalam kumpulan kabut, bersembunyi, lalu keluar dari kumpulan kabut. Ini benar-benar menyenangkan! 

Pasir Berbisik
(Pemandangan seperti ini bisa kalian temukan di Bromo loh)

Beberapa menit kemudian, cuaca kembali mendung. Tidak ingin basah untuk kedua kalinya, saya memutuskan untuk pulang. Namun jangan khawatir, sepanjang jalan menuju pulang, pengunjung masih dapat menikmati kecantikan Bromo yang tidak membosankan. 

Awalnya kami sempat kebingungan untuk menemukan jalan pulang. Hal ini dikarenakan kabut yang sudah menutup jarak pandang. Beruntung, kami menemukan mobil jeep yang sedang berhenti sehingga dapat menanyakan jalan keluar.
"Ikuti saja pagar ini dek. Ini akan mengarahkan kalian keluar dari lautan pasir, ntar bakal keliatan jalanan yang mengarah keluar dari kawasan Bromo."

Benar saja, kami segera mengikuti jejeran pagar kecil di tengah padang pasir. Pagar tersebut dibuat sebagai penanda jalan keluar. Jika tidak ada penanda dalam keadaan berkabut seperti itu, tentu saja akan membahayakan dan membuat pengunjung tersesat. Sebelum mengakhiri momen di Pasir Berbisik, dengan iseng rekan saya mempercepat kendaraannya, berniat menikmati laju kendaraan di padang pasir. Badan saya ikut terangkat karena mengikuti gelombang gundukan pasir. Sebenarnya saya sempat disarankan untuk mengendarai motor dengan kencang ketika dijalanan pasir seperti ini. Katanya sih seru, bahkan lebih seru lagi kalo motornya sampai jatuh dan tidak membahayakan. Meskipun begitu, saya tetap menolak. Itu tetap menakutkan.

Setelah sekian lama mengendarai diatas lautan pasir, saatnya bertemu hamparan dan luasnya Padang Rumput Savana.


 
Menikmati hamparan Padang Rumput Savana

Keren kan? Dan tentu saja saya tidak ingin menyayangkan kenangan disini tanpa take beberapa foto. Sekali lagi, ini semua beneran ada di Bromo loh.

Tidak hanya sampai disitu, ternyata si Bukit Teletubbies juga sudah menunggu kami untuk pamer pesonanya.

Bukit Teletubbies

Disini kami hanya mampir sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan karena gerimis yang mulai turun. Sepanjang jalanan menuju arah Tumpang, baik itu di sisi kanan dan kiri saya, hamparan luas pepohonan, bunga, serta savana, justru akan membuat pengunjung semakin tidak tega untuk meninggalkan kawasan Bromo. Bagaimana tidak? Keindahan yang dimiliki Bromo mampu mencuri hati pengunjung. Dijamin, kalian tidak akan dibuat bosan.

Dan, momen haru yang dapat membuat saya tidak berhenti tersenyum, mengucap syukur, bahkan menitikkan air mata, diabadikan melalui foto di bawah ini. Dan karenanya, saya dapat berdiam diri beberapa menit untuk menyampaikan salam perpisahan dengan kawasan Bromo

Bercandanya Kota Malang sudah kelewatan, dengan menyajikan keindahan Bromo yang keterlaluan -GSR

Baiklah, saatnya pulang.

###

Ketika kami memasuki jalur Tumpang, saya pikir tidak akan ada lagi pemandangan yang menarik. Ternyata saya sepenuhnya salah. Justru perjalanan pulang saya masih ditemani oleh pemandangan hamparan sawah, perkebunan warga, sungai, serta aktifitas warga yang tengah sibuk di lahannya. Ya Tuhan, saya senang sekali bisa menyaksikan banyaknya pemandangan indah sedari tadi.

Tepat pukul 12.00 siang, kami sudah sampai kembali di kota Malang. Segera kami mengembalikan motor dan membayar lunas sisa uang sewa. Kemudian, teman saya datang menjemput dan mengantarkan kembali kerumahnya untuk. Perjalanan saat itu sangat melelahkan. Saatnya bersih-bersih dan beristirahat kembali di Malang. 

*Teruntuk Bromo, kalian sangat menakjubkan! Sampai detik ini saya masih ingat detilnya perjuangan menuju keberadaan mu, seperti apa kebahagiaan dan kepuasan setelahnya, dan bagaimana Anda (Bromo) mampu membuat saya tersenyum tiada henti hingga menitikkan air mata. Terima kasih banyak atas kenangan dari Anda (Bromo). Segera, saya akan datang kembali untuk berjumpa.

###

Ini belum saatnya bagi kami menikmati istirahat sepenuhnya. Di malam hari, salah seorang teman saya datang berkunjung dan mengajak kami untuk menikmati kuliner malam kota Malang. Setelah makan malam di salah satu restoran laris di Malang, kami menuju sebuah cafe yang berada di kawasan bukit. Ketika sampai di lokasi, ternyata saya masih diizinkan melanjutkan kebahagiaan hari itu. 

Bagaimana tidak, ternyata cafe ini menyajikan pemandangan yang indah sekali dimana pengunjung dapat menimati view kota Malang di malam hari, ditemani lampu yang tertata rapi dan menambah suasana semakin indah. Selain itu, ramainya pengunjung diiringi gelak tawa mereka menambah good vibes bagi saya. Yup, dimana lagi kalo bukan di Cokelat Klasik Cafe!

Cokelat Klasik Cafe cabang Jl. Joyo Agung (sumber: dekatour.com)

Indah sekali bukan? Bersyukur sekali rasanya malam itu karena saya dapat menyaksikan keindahan pemandangan lainnya di kota Malang, ditambah dengan serunya cerita nostalgia jaman SMA yang membuat kami lupa waktu. Dan malam di kota Malang akan semakin larut, baiklah, saatnya pulang serta melanjutkan hari berikutnya di kota Malang.



Next: LIBURAN KE JOGJA DAN MALANG (Part V: Malang)




Comments

Popular posts from this blog

BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part III: Menuju Lombok)

BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part V: Liburan di Lombok )