BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part V: Liburan di Lombok )

Gili Trawangan

Hai semuanya,
Menulis sambil ditemani derasnya hujan yang jatuh dari langit Jekardah, ini dia cerita lanjutan dari BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part IV: Liburan di Lombok - Sembalun)

Day 4 in Lombok
Berhubung cerita saya selama di Sembalun cukup panjang, jadi mau tidak mau saya bikin blog baru saja ya hehe.
Setelah puas main di dataran tinggi, sekarang saatnya main ke dataran rendah. Keesokan harinya, badan kami terasa sakit semua, penat sekali rasanya (But thanks to Pira yang sudah mau memanjakan saya dengan memberikan pijatan di badan, jadi sakitnya bisa berkurang xoxo).

Perjalanan masih harus dilanjutkan, kali ini kami memilih Gili Trawangan untuk dituju. Kembali bermodalkan GPS, kami sampai di pelabuhan dengan waktu 1 jam. Disekitar pelabuhan, ada penitipan dan tempat parkir kendaraan, jadi kalian tinggal pilih saja nanti. Kalau tidak salah, biaya parkirnya Rp5.000/motor. Kamipun segera menuju tempat pembelian tiket. Total biaya naik kapal + tiket masuk wisatawan domestik ke Gili Trawangan dikenai Rp4.500/orang. Cukup menunggu sampai kapal datang, kamipun berangkat bersamaan dengan wisatawan lainnya.

Untuk durasi perjalanannya saya lupa tapi kalian bisa tertidur pulas diatas kapal hehe. Setibanya di Gili Trawangan, kami ditawari dengan pinjaman sepeda atau menaiki cidomo (sejenis kereta kuda di Gili), namun kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Karena kami akan membeli Gili Gelato! Kata Pira, gelato ini cukup terkenal.

Anggap saja kepala saya lagi dituruni salju ya

Gili Gelato ini dibanderol seharga Rp20.000 saja. Sambil berjalan kami memutuskan menuju Sunset Point, ikonik nya  Gili Trawangan. Awalnya, kami menduga bahwa menuju lokasi tersebut tidaklah jauh. Ternyata kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit lebih menuju daerah tersebut di tengah terik panas yang menyerang dan dengan jalan kaki! Mau sewa sepeda juga sudah tidak bisa lagi, terlanjur jauh. Yasudah, ikhlas saja sambil menikmati bagusnya resort di sepanjang pantai.

Kamipun sampai di Sunset Point. Resort dan cafe disana memang mempercantik lokasi. Kami memesan tempat dan ikut mengabadikan momen di ayunan Ombak Sunset.


Setelah dirasa puas dengan menikmati pantai dan mengabadikan momen, kamipun kembali pulang. Saya akui, resort disana cukup menggoda untuk memilih menginap disana. Mungkin kalian yang nanti ingin kesana bisa mencoba.

Kali ini kami memutuskan untuk menaiki cidomo menuju pelabuhan dengan biaya sebesar Rp100.000. Sebelum melakukan penyebrangan, kalian harus membeli tiket kembali. Setelah menyeberang, kami memutuskan untuk menyantap Ayam Taliwang yang juga termasuk makanan khas dan terkenal di Lombok. 

Ayam Taliwang

Menggoda kan? Hehe. Harga Ayam Taliwang ini juga tidak terlalu mahal. Kalian akan diberikan satu ekor ayam goreng per setiap orangnya. Kebetulan kami memilih rekomendasi tempat yang enak disekitar lokasi rumah singgah lombok backpacker. Setelah kenyang, kami memutuskan pergi ke Sasaku untuk membeli oleh-oleh.

Day 5 in Lombok (Last Day for Holiday)
Esok hari adalah saat kami harus kembali ke Jakarta. Tapi sebelum pulang, kami harus memberikan kenang-kenangan ke rumah singgah lombok backpacker.
Kenang-kenangan untuk Rumah Singgah Backpacker

Ya, salah satu tradisi setelah menginap disana adalah memberi kenangan berupa mencetak salah satu foto kalian selama di Lombok dan memasukkannya kedalam bingkai yang kemudian akan dipajang di dinding rumah Mamak. Tidak heran nantinya ketika kalian berkunjung disana akan menjumpai banyak sekali kumpulan bingkai foto yang menggantung di dinding rumah, karena tidak terhitung lagi jumlah mereka yang pernah berkunjung ke rumah mamak. Dan setahun kemudian ketika salah satu teman saya berlibur kesana, dia sempat mengirimkan foto kami yang terpajang sambil mengirimkan pesan "Mamak ternyata masih ingat kalian".

Sedih sekali meninggalkan rumah singgah saat itu, karena di hari terakhir kami menginap justru rumah semakin kedatangan orang dan suasana semakin hangat. Mendengarkan cerita mamak, menikmati seduhan kopi Mamak, atau ikut bermain games bersama pendatang disana. Ketika pamitan pulang pun rasanya haru sekali dan beliau terlihat sedih.

Sehat terus ya mak, terima kasih atas kebaikannya.
Allah pasti mengirimkan pahala yang melimpah karena kebaikanmu.

Hari kami di Lombok memang tidak begitu banyak, bahkan festival Bau Nyale yang terkenal dan hanya sekali setahun diadakan terpaksa kami batalkan karena kelelahan dari Sembalun. Kami juga belum bisa mengunjungi Pantai Senggigi, Pantai Kuta Lombok, atau Pantai Pangsi yang terkenal dengan warna pasirnya yang pink. Tapi setidaknya, kenangan di Lombok pernah ada.

Dan setiap perjalanan yang saya lakukan, pasti akan saya buat itenerary nya diselembar kertas, dan menyimpan setiap bukti berupa tiket keberangkatan maupun tiket/karcis masuk objek wisata. Sebagai kenang-kenangan aja sih hehe.

Kertas itenerary dan kumpulan karcis/tiket selama perjalanan 

Oiya, saya juga turut mengucapkan berbelasungkawa dengan bencana yang terjadi di Lombok dan sekitarnya. Semoga seluruh kerabat dan warga disana senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Akhir cerita kami di Lombok, sebuah taksi telah datang menjemput kami lalu bergerak menuju Bandara Lombok. Ya, saatnya pulang dan melanjutkan studi.
Terima kasih banyak Lombok atas cerita yang berarti.

Comments

Popular posts from this blog

LIBURAN KE JOGJA DAN MALANG (Part IV: Malang)

BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part III: Menuju Lombok)