BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part I: Menuju Bali)
| Dokumentasi Perjalanan |
Hai semuanya.
Lama sekali tidak berjumpa haha kali ini saya akan menceritakan perjalanan liburan saya ke daerah Bali dan Lombok lebih kurang selama 10 hari (bersamaan dengan budget yang dikeluarkan), di bulan Februari 2016. Yup, udah 2 tahun yang lalu tapi niat nulisnya baru sekarang hehe. Btw, perjalanan kali ini backpacker-an sih, karena berusaha meminimalisir budget semurah mungkin (semoga haha). Dan, semua cerita bermula dari...bawah ini:
Sebelum tanggal 20 Februari 2016
Menuju akhir bulan Februari 2016, saya dan beberapa teman memutuskan untuk menikmati liburan semester dengan bepergian jauh. Setelah coba ajak sana sini, akhirnya kandidat yang bisa ikut cuma Saya, Pira, Bayu, dan Bebe. Beberapa minggu sebelumnya, kita sudah bertemu dan membicarakan mengenai destinasi yang akan dikunjungi nantinya, tidur dimana, dan transportasi selama disana bagaimana. Hingga Bali dan Lombok menjadi tujuan kami. Semua persiapan mulai dicari, dibeli dan dipinjam (haha). Oke siap, tanggal 20 nanti menjadi pilihan tanggal keberangkatan kami. Bismillah.
20 Februari 2016
Tepat setelah mengikuti Ujian Utama di kampus, kami langsung bergegas ke kosan masing-masing untuk bertukar pakaian berangkat. Dan kosan saya menjadi titik kumpul sebelum berangkat. Setelah berdoa dan berpamitan dengan orang tua serta teman sekitar, kami berangkat menuju stasiun Pondok Cina, transit di Stasiun Manggarai untuk menuju Stasiun Jatinegara, kemudian berangkat kembali menuju Stasiun Pasar Senen. Tidak cukup lama menunggu, kereta sudah datang. Tujuan pertama yaitu Bali, dengan pilihan naik kereta menuju Stasiun Malang dan melanjutkannya ke Stasiun Banyuwangi Baru.
![]() |
| Nunggu kereta datang (Stasiun Pasar Senen) |
Harga tiket dari St. Pasar Senen ke St. Malang saat itu Rp212.500/orang. Kami memutuskan naik kereta dengan alasan "Ingin melihat pemandangan dan menikmati perjalanan". Kamipun bergegas masuk ke dalam kereta dan menuju bangku masing-masing. Saya, Pira, dan Bebe pisah duduk dengan Bayu. Dan Mba Yuri (sempat kenalan) yang menggantikan posisi Bayu dari kami berempat haha. Sepanjang malam selama perjalanan kami habiskan dengan tidur.
Tapi sepanjang pagi selama perjalanan kami habiskan dengan obrolan kecil dan candaan untuk menghilangkan kejenuhan.
Sesekali, kami turun dari kereta ketika berhenti untuk menghilangkan rasa penat karena pantat mulai panas haha. Petugas mulai berteriak ke kami "Masuuuk masuuuk" tanda kereta akan kembali berangkat. Akhirnya pagi pun muncul, dan perlahan keindahan dari ciptaaan Tuhan mulai tampak.
21 Februari 2016
Di pagi hari, pemandangan sawah dan hutan menjadi teman sampai kami tiba di stasiun Malang.
![]() |
| Mulai jenuh geng |
![]() |
| Oke udah engga lagi |
Rasanya tenang sekali, melihat hijaunya padi yang terhampar luas bercampur dengan kegiatan masyarakat sekitar yang mulai berangkat kerja atau mengantarkan anaknya pergi sekolah. Sesekali, saya mendapati segerombolan anak kecil yang melambaikan tangannya ke arah kereta. Raut wajahnya bahagia. Saya mengerti, pasti juga ada kebahagiaan tersendiri bagi sang masinis sehingga mereka nyaman dan ikhlas dalam bekerja.
Kurang lebih pukul 10 pagi, kereta yang melaju sedari kemarin sore sudah sampai di Stasiun Malang. Yuhuuu, senang sekali. Kami memutuskan berkeliling sekitar stasiun dan mencari rumah makan untuk sarapan sekaligus membungkus makanan untuk di kereta nanti.
| Ya namanya orang Padang, ternyata ngga jauh-jauh dari nasi padang haha |
Setelah kenyang, kami malah kebingungan haha. Mau kemana ya ampe pukul 3 sore ntar? Akhirnya saya ingat, kalau saya punya teman yang juga berada di Malang karena kuliah, yaitu Dimas. Segera saya hubungi dan dia bersedia membawa kami keliling sebentar di Kota Malang, lebih tepatnya cuma ke Kampus Brawijaya sih:( haha (but it's okay).
Setelah melaksanakan ibadah Dzuhur, teman saya datang menjemput. Kota Malang diguyur hujan deras beberapa jam, tapi..kesempatan baiknya adalah saya bisa bertemu teman lainnya yang juga tinggal di Malang, yaitu Anet. Rindu sekali rasanya, nostalgia ketika berada di jaman SMP sambil tertawa lepas. Sesekali juga saling mengejek normal wkwk.
Oke, waktu sudah mendekati pukul 3 sore. Teman-teman mulai mengingatkan saya untuk kembali ke stasiun. Pelukan hangat saya berikan kepada Anet dan salam hangat saya berikan kepada Dimas yang sudah bersedia menemani waktu luang kami. Kami semua berdoa, semoga kelak dapat bertemu dan bertukar cerita kembali.
Kereta bersiap menuju stasiun Banyuwangi Baru (FYI: waktu itu harga tiket dari St. Malang ke St. Banyuwangi Baru Rp65.000), dan kali ini kami berempat dapat duduk berdekatan. Di malam hari, kami mulai kelaparan. Tapi tenang, nasi bungkus rumah makan Padang sudah siap untuk mengenyangkan perut.
Setelah perut kenyang, kami memutuskan untuk tidur sebentar haha Eat-Sleep-Talk (Repeat). Kurang lebih pukul 12 malam, kereta akhirnya tiba di St. Banyuwangi Baru. Alhamdulillah ya Allah, lega sekaliiii.
![]() |
| Stasiun Banyuwangi Baru |
Eiitsss, tunggu dulu. Perjalanan masih jauh dan masih panjang. Kami harus naik kapal lagi dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk Bali. Awalnya, setelah keluar stasiun kami kebingungan. "Ini arah pelabuhan kemana ya? Mana jam segini gaada warga lagi. Mau nanya malah bingung juga takut salah tanya". Beberapa menit berada di depan Stasiun, tiba-tiba ada seorang pemuda menyandang carrier berjalan keluar. Kamipun bertanya kepada pemuda tersebut dan untung banget, tujuannya sama. Kamipun mengikuti dia dan minta bareng (saya lupa namanya siapa, sebut saja saja namanya Rangga ya haha). Mas Rangga ini dari Bandung, dan berniat kembali ke Karang Asem.
| Pelabuhan Ketapang |
Setibanya di pelabuhan, kami membeli tiket dengan harga Rp6.000/orang dewasa. Murah kan? hehe. Kami masih perlu berjalan jauh untuk naik ke kapal. Setelah berhasil naik keatas kapal, kami segera beristirahat. Cukup menegangkan, karena melakukan perjalanan di tengah malam. Tapi jangan lupa ya guys, setiap bepergian selalu memanjatkan doa kepada Allah meminta untuk dilindungi dan diselamatkan selalu di setiap perjalanan. Pun saya sendiri harus berkabar ke grup whatsapp keluarga sudah sampai dimana dan sebagainya.
Niatnya pengen tidur selama perjalanan, tapi gabisa-bisa. Ga kerasa udah nyampe pelabuhan aja (serius ga kerasa, kirain kapalnya masih belum berangkat malah). Sesampainya di pelabuhan Gilimanuk Bali, banyak bapak-bapak yang menawarkan angkutan. Kami berempat hanya tetap berjalan sambil mengikuti Mas Rangga.
Mas Rangga pun berhenti di salah satu mobil ELF,
"Ini, kita naik bus ini. Nanti saya akan berhenti di salah satu daerah. Sedangkan kalian bisa lanjut sampai ke terminal Ubung (kalau tidak salah ya, karena saya sedikit lupa)".
"Oke mas", jawab kami kompak.
Menunggu penumpang sampai dirasa cukup, kernet mulai memintai ongkos. Kalau tidak salah, biayanya Rp40.000/orang. Kamipun berbasa basi sedikit ke Mas Rangga untuk membayarkan ongkosnya, Mas Rangga membalasnya dengan ucapan terima kasih.
Selama di perjalanan, saya masih merasa cemas. Bagaimana tidak, jalanan sangat teramat gelap karena masih pukul 3 pagi. Bus melaju dengan kencang, semakin kearah kota semakin banyak penumpang yang naik. Saya sedikit tenang. Dan di tengah perjalanan, Mas Rangga pamit turun menuju arah rumahnya. Kamipun sempat tertidur lagi. Sesampainya di terminal yang masih dalam keadaan setengah sadar, kami turun. Mulai sedikit bingung lagi, ini mesti naik angkot yang mana? Banyak sekali yang mulai menawarkan angkutan mereka ke Bali, akhirnya sempat nego dengan salah satu supir angkot.
"Mau kemana dek?"
"Mau ke Bali pak, ke arah Poppies Lane", jawab saya.
"Nah ayoklah, 90 ribu kesana"
Logat Bali-nya kental sekali, dan memang tidak jauh berbeda dengan logat Padang. Sayapun jadi ikut-ikutan haha.
"Aduh pak, mahal lah kalau segitu. Kurangi lagi lah pak. Kita cuma berempat ini"
"Itu udah murah"
"60 ajalah pak, kita sedikit ini"
"Ndak dapat kalau segitu dek"
"Yaudah pak, saya tambah lagi 10 ribu"
Setelah berusaha menawar, akhirnya beliau mau. Bali sudah mulai ramai di pagi hari. Mereka yang berangkat ke kantor dan mengantarkan anaknya ke sekolah. Beberapa sisi jalan malah macet. Mobil angkutan kami melaju menyusuri jalanan di Bali. Perjalanan kurang lebih 30 menit ditempuh, akhirnya kami tiba di jalan Poppies Lane.
"Balik dari Bali mau naik apa dek? Kalau mau ini ada nomor bapak, nanti dibantu antar lagi".
"Oh boleh pak"
Setelah meminta nomornya dan mengucapkan terima kasih, kami mulai meyusuri jalanan di Poppies Lane untuk mencari penginapan. Sana sini ditawarkan orang sekitar, mulai dari yang mahal sampai yang kecil. Hingga dari yang sepi sampai yang ramai dengan preman (serem uy). Ya bagaimanapun, tentu kami nyari yang murah toh haha (sampai mungkin calonya capek nawarin kali ya). Akhirnya kami bersikeras untuk mencari penginapan lain. Aha! Ketemu, ada Losmen Arthawan. Sebelumnya saya pernah baca di blog atau perjalanan backpacker yang di share teman, katanya itu salah satu penginapan murah dikawasan Pantai Kuta.
Benar, biaya per malamnya dikenai Rp100.000 saja. Kami memesan 2 kamar, satu kamar untuk para cowok dan satunya untuk para cewek. Hari itu cuaca di Bali sangat cerah. Kami memutuskan beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan wisata pertama. Oh ya, di losmen itu juga menyediakan penyewaan motor. Biayanya Rp50.000/motor. Menurut saya sudah cukup murah, plus tidak perlu nyari penyewaan sana sini lagi.
Oke, saatnya istirahat dulu sebelum memulai perjalanan di Bali.







Comments
Post a Comment