BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part IV: Liburan di Lombok - Sembalun)
| Bukit Pergasingan |
Hai semuanya,
Kali ini, saya menulis sambil ditemani alunan musik folk dan indie. Hmm, so serene and peaceful. Dan ini dia cerita lanjutan dari BACKPACKER-AN KE BALI DAN LOMBOK (Part III: Menuju Lombok).
Day 2 in Lombok
Pagi hari sebelum berangkat, kami memutuskan untuk membeli sarapan. Percaya tidak kalau harga makanan di Lombok murah? Yup, sarapan pagi bikin kenyang saja bisa dibeli dengan harga Rp2.000. Tapi saya kurang tau sih untuk sekarang berapa hehe. Setelah kenyang, kami mulai menaruh peralatan dan carrier di motor. Saya sedikit lupa dengan harga penyewaan motor saat itu, intinya tidak mahal kok. Tak lupa pamitan ke Bapak dan Mamak, kamipun berangkat. Sebelumnya, kak Vany sudah memberikan kami kontak Mamak Wahyuni, yaitu orang yang dihubungi dan menitipkan kendaraan selama berada di Sembalun.
Perjalanan sepenuhnya mengandalkan GPS yang lebih kurang memakan waktu 3-5 jam. Selama perjalanan, doa tidak pernah terhenti saya ucapkan karena semakin ke arah Sembalun, jalanan terasa semakin sepi. Beberapa kali kami sempat berhenti untuk menghindari hujan deras dan mengisi bensin motor. Siang menjelang sore, kami sudah sampai di daerah Sembalun (ingat, kalau kalian kesini harus berhati-hati karena kalian akan melewati hutan).
Setelah berusaha mencari lokasi kantor Camat Sembalun sebagai titik temu dengan Mamak Wahyuni, kamipun bertemu. Ternyata Mamak lebih dahulu sampai di lokasi dan sedikit mencemaskan kami. Setelah bersalaman dan menjelaskan tujuan kedatangan, beliau membawa kami ke rumahnya.
"Tau nomor saya darimana?", tanyanya.
"Dari Ka Vany mak. Katanya dia pernah kesini sebelumnya."
"Oooh iya"
Mamak bersikap ramah sekali, beliau sempat menawarkan kami untuk membeli makanan terlebih dahulu sebelum berangkat dan menyuruh salah seorang untuk pergi membelinya. Beliau juga mengenalkan kami ke salah satu adiknya yang menjadi porter Gunung Rinjani. Mereka turut menceritakan mengenai kondisi Rinjani saat itu bagaimana, dan bagaimana kesannya menjadi seorang porter. Kala itu di sepanjang perjalanan, cuaca memang tak karuan. Cerah kemudian mendung, menjadi gerimis, turun hujan, lalu cerah kembali dan begitu seterusnya. Setelah beribadah dan makan siang, kami berangkat.
![]() |
| Mengenakan jas hujan, kami terlihat lucu (geer) Taken by Mamak |
Mamak tidak tega meninggalkan kami secara langsung, beliau justru bersikeras ingin mengantarkan kami sampai tanda masuk Bukit Sembalun. Sambil berjalan, mamak menasihati kami untuk tetap berhati-hati. Kalau diatas dirasa aneh, segera turun. Kamipun mengucapkan terima kasih dan resmi berpisah di tanda masuk Bukit Pergasingan.
Awalnya, jalanan terasa aman dan belum sulit, karena ada beberapa tangga yang sudah dibuat warga disana. Namun, setelah anak tangga tersebut habis kami mulai menemukan bebatuan dan aksi ala-ala rock climbing mulai diperankan. Saya dan Bebe bergantian memimpin di depan, Pira ditengah, dan Bayu menjaga dari belakang. Tentu saja saat itu sulit bagi Pira karena baginya ini adalah pengalaman pertama kali (beberapa kali saya merasa kasihan disaat saya paksa "Ayo Pir, dikit lagi kok" walaupun dia tau kalau masih jauh haha). Seperti biasa, ketika lelah salah satu akan berteriak,
"Istirahat dulu ya"
dan semua akan berhenti.
"Istirahat dulu ya"
dan semua akan berhenti.
"Jangan terlalu dihabisin ya airnya"
itu juga semacam pengingat untuk tidak menghabiskan persediaan air karena pendakian masih jauh. Walaupun terkadang rasa tidak sabar untuk menuju puncak Gunung/Bukit menghampiri kita , tapi kebersamaan dan keselamatan jauh lebih penting. Dan salah satu tantangan ketika melakukan pendakian, yaitu ego.
itu juga semacam pengingat untuk tidak menghabiskan persediaan air karena pendakian masih jauh. Walaupun terkadang rasa tidak sabar untuk menuju puncak Gunung/Bukit menghampiri kita , tapi kebersamaan dan keselamatan jauh lebih penting. Dan salah satu tantangan ketika melakukan pendakian, yaitu ego.
| Pendakian Bukit Pergasingan |
Bagi saya, jalur pendakiannya justru lebih sulit dibanding jalur pendakian Gn. Papandayan yang bahkan motor trail bisa naik keatas. Ditambah cuaca yang kurang mendukung sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak salah ketika kaki berpijak. Hampir 2 jam melakukan pendakian, akhirnya kami sampai ke jalur yang tidak lagi penuh bebatuan. Diatas, justru ada kawanan kerbau yang sedang makan rerumputan. Lengkap dengan lonceng yang digantung di leher mereka. Kawanan tersebut sempat terdiam dan berhenti makan ketika kami melewati mereka.
| Lokasi tenda |
Sore itu, Sembalun sedang ingin cerah. Kami manfaatkannya dengan menyaksikan matahari yang perlahan turun dan bergerak sembunyi, lalu menghilang. Indah sekali, tepat di depan kami pemandangan Gunung Rinjani sangat mencuri perhatian.
| Tidak lupa kami mengabadikan momen tersebut dengan beberapa jepretan foto |
Rasanya senang sekali ketika sudah sampai di puncak dan melihat tawa teman-teman saya. Dan pelajaran yang selalu saya petik, bahwasanya setiap pendakian yang kita lakukan adalah ibarat gambaran hidup. Kita baru akan tertawa lega mensyukuri segalanya dengan berusaha terlebih dahulu. Usaha yang dilakukan tentu saja tidak mudah, bahkan tidak jarang lelah datang menghampiri. Tapi dengan semangat diiringi doa, semuanya pasti akan tercapai.
Saya juga teringat dengan ucapan Abang saya, bahwa pendakian Gunung itu juga merupakan salah satu cara kita untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Saat itu kita akan berada diatas, bergerak sedikit lebih dekat dengan keberadaan-Nya walaupun masih jauh. Tapi rasa syukur karena melihat karya hasil ciptaan-Nya juga akan ikut menyadarkan kita, bahwa alam terlalu indah untuk disakiti.
Setelah puas berfoto, kami mulai berganti pakaian dengan baju yang lebih kering karena sebelumnya sempat kebasahan (tenang, kita gantian kok nukernya), lanjut dengan makan malam yang sudah dibawa sebelumnya dari tempat Mamak. Tentu saja kami juga menyeduh kopi sambil bercengkrama layaknya anak tongkrongan yang menghabiskan waktu malam.
Malam mulai menuju larut, para cewek dan cowok akan bergantian menjaga tenda. Saat itu, saya dan Pira kebagian jaga tenda di pukul 3 malam. Tentu saja tidur tidak akan begitu nyenyak, dan benar saja, tidak terasa waktu kami untuk menjaga tenda sudah tiba. Di luar tenda, saya dan Pira kembali menyeduh kopi. Untungnya langit tidak lagi gerimis tapi mulai memainkan cahaya bulan. Dan dari ketinggian, cahaya lampu rumah warga ikut terlukis indah sekali.
Day 3 in Lombok
Menuju pagi, momen-momen yang indah semakin menghampiri. Seruan ibadah berupa adzan subuh terdengar jelas, saling bersahutan dari segala sisi, tenang sekali. Menurut saya, salah satu hawa dingin begitu menusuk terjadi ketika matahari akan bangun dari tidurnya dan keluar dari persembunyiannya. Setelah kami beribadah dan sempat tertidur sebentar, tiba-tiba Pira membangunkan saya.
"Gem bangun, liat tuh"
Masya Allah, ternyata sunrise di Bukit Pergasingan sangat menakjubkan.
Sambil menahan dingin, saya tidak berhenti tersenyum bahkan tertawa kecil melihat pemandangan ini. Dan sampai saat ini, saya selalu akan bersikap seperti anak kecil yang kegirangan ketika bertemu matahari yang muncul di pagi hari.
![]() |
| Bukit Pergasingan |
Baiklah, kenangan di Bukit Pergasingan sudah tertulis dan siap disimpan. Saatnya memasak sarapan pagi dan bergegas turun.
Ada kejadian sial ketika kami turun. Ketika baru selesai mempimpin doa dan bergerak beberapa langkah, saya terjatuh. Ternyata sendal gunung yang saya gunakan licin. Sungguh tidak keren, gagal keren juga haha. Beberapa kali saya terpaksa jongkok, kemudian berdiri, lalu berusaha mencari jalan lain agar tidak melewati jalanan yang cukup licin karena hujan di hari sebelumnya.
Kejadian menegangkan masih mengikuti kami, kali ini berurusan dengan kawanan kerbau. Belum terlalu siang, tapi sekawanan kerbau sudah kembali berada diatas. Kami harus kembali melewatinya ketika kawanan tersebut sedang asik menyantap rumput.
"Permisi yaa", ucap salah satu diantara kami.
Dan anehnya, semua kerbau tersebut berhenti makan. Diam, mata mereka mengikuti kemana arah kami melangkah. Kami yang terheran berusaha berjalan dengan santai. Tapi tidak dengan gerombolan hewan itu, mereka secara perlahan bergerak mengikuti. Oke, ini nggak lucu.
Kami mempercepat langkah tapi justru tersesat. Berusaha mengingat kembali jalan pulang akhirnya ketemu. Perjuangan tidak hanya sampai disitu, dengan keadaan sendal yang licin, jalanan yang licin dan penuh bebatuan, serta carrier yang berat membuat saya harus ekstra teliti. Sekali saja salah melangkah, jurang yang ada di kiri dan kanan saya siap menganga. Mau tidak mau, setiap menemui turunan yang terjal carrier harus saya buka lalu lempar ke bawah, pakai lagi, bertemu jalanan yang terjal lalu membukanya lagi dan begitu seterusnya.
Ketika sampai dibawah, kami sempat dimintai dana oleh pemuda sekitar. Saya lupa entah uang apa namanya, tapi totalnya dikenakan Rp20.000/orang.
Sekembalinya ke rumah Mamak, kami segera bersih-bersih. Mamak kembali berbuat baik dengan memasakkan kami makanan. Ada tahu, tempe, telur, sayur dan sambal bikinan Mamak sukses membuat saya teringat rumah (asli ini enak banget).
| Menyempatkan berfoto dengan Mamak sebelum pulang |
Setelah mengucapkan terima kasih banyak dan berpamitan ke semuanya, kami kembali ke Kota Lombok. Tepat sebelum maghrib kami telah tiba di rumah singgah lombok backpacker. Terima kasih Desa Sembalun, kalian sukses memberikan ketenangan.






Comments
Post a Comment